MEMBANGUN PASAR DENGAN INOVASI SMART PRODUCT
(Suatu studi analisa perilaku pasar pada institusi pendidikan tinggi)
Oleh: Ferry Hermawan
Kemampuan menjual sesuatu itu tidak mudah pada konteks pemasaran di dunia ekonomi. Hanya sedikit dari kita yang bisa menganggap mudah yaitu mereka yang berbakat untuk itu. Sebagai jembatan untuk membuka cakrawala pikir pemasaran tersebut kita perlu belajar dari pengalaman. Mungkin benar jika sebagian orang menganggap ilmu pemasaran harus melalui pendidikan formal, kuliah misalnya. Tetapi lebih banyak fakta menunjukkan tidak sedikit orang menguasai pemasan dari belajar sendiri/autodidak.
Dengan tidak bermaksud mengecilkan manfaat pendidikan formal, maka penulis melalui artikel yang sedikit ini akan menunjukkan suatu pendekatan eksperimen terhadap pemasaran. Jadi apabila didapati metode yang sama sekali berbeda, itu hal yang wajar. Bukankah pemasaran itu adalah disiplin ilmu yang dinamis?………
Awalnya membangun suatu pangsa pasar secara filosofi adalah memahami kebutuhan orang dan membutuhkan orang lain. Maka semakin banyak orang punya kebutuhan semakin banyak juga interaksi membutuhkan dan dibutuhkan. Namun seringkali para opportunist memutus mata rantai itu untuk diri sendiri. Itulah yang sekarang ini sering terjadi di dunia ekonomi global, sehingga timbul krisis. Pada institusi pendidikan tinggi hal itu jarang sekali dibicarakan ekonom publik. Keadaan tersebut terutama pada negara-negara berkembang. Barangkali pendidikan tinggi hanya sebagai legalitas bagi kelancaran bisnis belaka. Pada akhirnya timbul pembatas antara pelaku bisnis dengan institusi pendidikan berupa hubungan bisnis saja bukan hubungan pengembangan. Parahnya lagi ada sebagian intelektual yang rela meninggalkan atau cenderung melalaikan tugasnya karena mempertimbangkan keuntungan material yang bisa didapat.
Sudah menjadi tugas institusi pendidikan tinggi membentuk intelektual yang bermanfaat. Kini bukan masanya kampus hanya sebagai menara gading, datang duduk kuliah setelah selesai pulang. Inovasi seharusnya muncul dari para intelektual kita, bukannya untuk kepentingan bisnis maka memaksa membuat inovasi itu muncul. Dikhawatirkan inovasi yang terpaksa itu merugikan atau bahkan membahayakan.
Berawal dari mengamati lingkungan tempat tinggal, lalu keluar berjalan, entah itu pergi ke luar kota atau ke luar negeri. Melalui seminar, pelatihan-pelatihan, kursus, diskusi-diskusi kecil kemudian terjalin relasi-relasi. Ketika kita mempunyai inovasi, maka yang akan tahu terlebih dahulu adalah teman-teman terdekat kita. Kalau kita analogkan dengan pemasaran itu ibarat door to door marketing. Kita bisa belajar dari sistem pemasaran electrolux, dagadu atau restoran padang sekalipun, tetapi inovasinya berbeda. Itulah yang kemudian menuntut intelektual kita untuk berpikir bahwa inovasi yang akan dihasilkan adalah inovasi smart product. Maksudnya memudahkan pemakai inovasi untuk mengerjakan sesuatu, kemudian jika kemudian hari mengalami masalah inovator bisa mengembangkan lebih baik. Secara tidak langsung kita telah membangun pasar dengan segala konsekwensinya.
Jika pasar telah terbangun maka disitulah pemasaran akan berenang, berseluncur bahkan mengendalikan. Apalagi kini teknologi virtual market lewat jaringan internet akan semakin menambah speed dari sistem pemasaran. Tetapi kita jangan lupa pada filosofi dasar munculnya interaksi pasar adalah hubungan baik face to face dan kepercayaan.
Semoga yang sedikit ini bisa memacu kita berpikir inovatif untuk kepentingan umum.
Daftar Pustaka
- Prinsip & Dinamika Pemasaran, Fandy Tjiptono, Anastasai Diana, J&J Learning, cetakan pertama, Yogyakarta, 2000.
- Menjelajah Internet Dengan Netscape Navigator 3.0, Wahana Komputer Semarang, ANDI Yogyakarta, Edisi Pertama, cetakan pertama, Yogyakarta, 1997.
|
Search BPPS
|
|
|
Featured Book
|
Menghitung Beton
Bertulang
|
BPPS Corner
|
|
|
|